Gumam

Perjalanannya dimulai dari sebuah kamar berukuran 3×3 yang berada di pojok rumah. Dengan sebuah cendela yang berhiaskan pagar besi, sebagai pencegah akan tindakan kriminal. Di dalamnya ada sebuah kasur dan juga meja kayu. Dan tentunya almari kayu dengan 2 buah pintu turut memenuhi ruang itu. Di sana tinggal seorang pria dengan wajah penuh kerut keriput dan berwarna hitam berusia 35 tahun, Dayat Nugroho adalah nama yang diberikan oleh kedua orangtuanya.

Dia bekerja pada perusahan jasa pengantaran barang. Pekerjaan sehari-harinya adalah menyusun dan menata barang sesuai dengan kriterianya, mulai dari ukuran, tujuan dan isi dari barang kiriman. Posisinya sebenarnya tidak terlalu menarik bagi beberapa orang, karena tidak jauh berbeda dengan para pekerja kasar di pasar, kuli panggul. Namun begitu dia masih sangat menikmati apa yang dikerjakan.

Dengan usia yang sudah tidak terbilang muda lagi terkadang membuat ia mulai jenuh. Kejenuhan ini bukan tanpa alasan. Setiap kali lelah mencari uang dan pulang tanpa ada yang dapat disapa dan menenangkan segala keluh kesahnya. Yang selalu diidamkan adalah seorang pasangan hidup yang dapat menjadi penenang hidupnya. Dia tidak pernah berpikir terlalu berlebihan. Cukup seorang gadis, entah dia masih perawan ataupun janda, tetapi setidaknya dia mampu memberikan senyum setiap kali suaminya pulang. Bahkan terkadang sempat terpikirkan untuk apa dia bekerja. Apakah semua uang dan kerja kerasnya hanya untuk dirinya sendiri?

Suatu ketika di kantor dia menemukan sebuah paket aneh yang tidak terbungkus. Walaupun sudah ada alamatnya, namun dia masih merasa aneh. Sebuah paket berukuran lebar 20 centimeter, lebar 10 centimeter dan tinggi 5 centimeter terbungkus oleh sebuah plastik bening, sehingga isi dari paket tersebut dapat terlihat. Dan tercengangnya dia menemukan isi dari paket tersebut adalah sebuah usus yang sudah berwarna putih. Dengan bergegas ia segera melaporkan paket tersebut kepada atasannya.

Dengan menggunakan sepatu kulit hitam yang solnya sudah semakin rapuh, sehingga terkadang membuatnya terbuka pada bagian belakang sepatu. Berlari menaiki anak tangga menuju lantai dua, dimana ruang bagian pengiriman berada. Dengan keringat membasahi bagian depan kemeja biru membuat ia tampak maskulin. Sesampainya di hadapan penanggung jawab dia hanya menyodorkan paket itu. Dan ia-pun dipersilahkan kembali kebagiannnya.

Hari itu terasa tidak terlalu berbeda, terkecuali permasalahan paket aneh. Sesampainya di kamar hanya dapat tertidur dan menyandarkan segala beban hidupnya kepada kasur yang dibelinya dengan gaji pertama. Hingga akhirnya rutinitas memanggilnya kembali.

Mentari masuk dari jendela kamarnya dan ia segera bergegas menuju kantor. Belum sempat ia meletakkan jaket dan tasnya di almari karyawan keburu dipanggil oleh penanggung jawab pengiriman. “Kamu sekarang ke alamat ini dan sampaikan bahwa kita tidak dapat mengantarkannya,” ucap penanggung jawab pengiriman dengan nada memaksa. Tanpa pikir pajang ia segera bergegas membawa motor kesayangannya menuju alamat yang tercantum pada surat pelunasan biaya pengiriman.

Rumahnya memiliki pekarangan yang dipenuhi oleh bunga mawar dan melati. Mulai dari warna merah, putih hingga kuning menghiasi teras rumah tersebut. Memasuki halaman tersebut dia belum menyadari bahwa sang pemilik rumah sedang mengintipnya dari balik jendela. “Selamat siang,” sapanya di depan pintu. Beberapa kali ia mengulangi sapaannya. Dan tanpa balas.

Dengan menghembuskan nafas panjang ia ingin kembali ke kantor, karena merasa bahwa tidak ada orang di rumah tersebut. Dan tidak berselang lama ada suara dari seorang wanita, “Ada apa ya mas? Kok saya tidak mengenal anda?” Tanyanya kepada saya yang sudah terlanjur memunggungi pintu. Dan saat ku balikkan badan kembali ternyata mata ini seakan memandang bidadari. Rambut panjang hitam tebal membentuk mahkota panjang hingga pinggulnya. Kulit putihnya menambah keistimewaannya. Dan tidak luput dari pandangannya adalah lekuk tubuh yang sangat diidamkan oleh para kaum pria. “Maaf ya mas ada apa kemari?” Tanya perempuan itu sekali lagi dan mengejutkannya dalam lamunan.

Setelah menjelaskan maksud kedatangannya ia-pun dipersilahkan masuk. Ruangannya bersih dan tersusun secara rapi, namun sepi. Ruang tamu hanya terdiri dari 2 buah kursi plastik dengan meja kayu kecil di antaranya. Tidak berselang lama perempuan itu membawakan segelas teh hangat dan makanan ringan. Dan ia-pun mulai bercerita tentang isi dari paket itu dan ingin dikirimkan kepada siapa. Sekitar 30 menit dia hanya dapat terdiam mendengarkan ceritanya serta menikmati keindahannya. Dan sesekali harus menahan nafas mendengarkan ceritanya. Setelah mendengarkan penjelasan darinya saya tetap mengembalikan paket itu. Kemudian ia memutuskan kembali ke kantor, namun sebelum sempat meninggalkan ruang tamu perempuan itu hanya mengucapkan permohonan maaf karena telah merepotkan, itupun diiringi dengan air mata.

Dalam perjalanan ke kantor saya hanya dapat membayangkan betapa malang nasih perempuan itu. Setelah menikah dan menjalani hidup rumah tangga selama 3 bulan harus ditinggal minggat oleh suaminya. Dan pada saat itu perempuan itu sudah mengandung 2 bulan. “Sungguh malang nasibnya,” gumam dalam hati. Namun sebenarnya dia tidak sadar bahwa banyak orang pula yang bergumam tentang dirinya.

Advertisement

About mbooh
Mencoba mencari segala hal yang dapat memantapkan langkah menjalani hidup. Karena hidup sempurna dengan keterbatasan. Semoga jalan ini mendapatkan berkah dari yang Maha Esa.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.