Liku Seorang Laki-laki (1)

Malam ini memang indah seperti apa yang dituliskan seorang kawan. Dan saya akhirnya dapat mengerti tentang apa yang dia rasakan saat ini. Gundah dan sepi seakan menjadi teman yang sangat menyenangkan ketika malam bersahabat. Dengan mendengarkan adzan subuh, akhirnya saya memutuskan berbagi cerita tentang indahnya malam ini.

Perjalanan ini bermula dengan keinginan saya mencari ilmu. Sebagai orang yang masih buta dan kosong rasanya perlu membuka diri dengan segala masukkan, namun dicerna dengan seksama. Saya awali perjalanan ini dengan menuju salah satu rumah yang dikontrak oleh kawanku. Zani namanya.

Di sana saya tidak dapat menjumpai dia karena ternyata memang sedang ada urusan, belanja. Namun saya tidak kehabisan teman di sana, karena masih ada bocah tolol yang sibuk mengerjakan skripsinya, Bedu.

Saat ku jumpai dirinya di dalam kamar sepertinya dia baru saja belanja makanan. Karena ada beberapa kantung plastik putih berisikan mie instant. Dan juga dapat terlihat sebotol besar minuman bersoda warna biru, dan dalam kondisi dingin. Tanpa permisi langsung saya meneguk minuman biru itu, karena haus tentunya.

Berbincang-bincang sedikit mengenai film.  Karena saya baru saja saya menyaksikan film mengenai band metal headbang. Dan kebetulan dia sudah pernah menonton sebelumnya. Setelah sedikit berdiskusi saya memutuskan untuk beralir perbincangan mengenai Stephen Hawking dengan teori Big Bang-nya. Namun semua segera kembali pada kebiasaan sehari-hari, mencela dan berbangga diri.

Menantikan Zani yang tidak kunjung pulang akhirnya saya memutuskan menyaksikan serial televisi, Spongebob. Walaupun mendapatkan celaan mengenai keputusan menyaksikan serial ini, namun siapa perduli. Dengan sedikit perilahn saluran televisi akhirnya membuat sebuah diskusi mengenai teror bom yang sudah beberapa kali terjadi di Indonesia.

Perbincangan mengenai teror bom akhirnya berlanjut hingga membahas sejarah peradaban manusia. Mulai dari Adam, Nuh, Ibrahim dan orang-orang yang merasa islam dengan tindakan kekerasannya. Namun tanpa disadari ternyata perbincangan ini mulai mengarah kepada pembahasan orang-orang yang memilih atheist. Dan ada satu pendapat kami yang sama. Orang-orang atheist lebih memikirkan Tuhan dari pada orang beragama.

waktu seakan beranjak ringan tanpa kabar yang jelas, dan akhirnya orang yang ditunggu datang.

Sebelumnya saya sempat memesan sebuah makanan ringan kepada Zani. Sebuah makanan ringan berupa wafer coklat bergambarkan tokoh pahlawan milik Amerika, walaupun ada sedikit perbedaan pada lamba di dadanya. Dia bilang tidak sempat membelikan apa yang saya pesan, karena pesan baru diterima ketika telah selesai berbelanja. Dengan sedikit kata-kata cinta saya menyentuhnya, asu. Tapi ternyata dia hanya mempermainkan saya dan membeli satu kotak berisikan 25 wafer.

About mbooh
Mencoba mencari segala hal yang dapat memantapkan langkah menjalani hidup. Karena hidup sempurna dengan keterbatasan. Semoga jalan ini mendapatkan berkah dari yang Maha Esa.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.