Pulang dan Rindu

May 27, 2013 § 2 Comments

“Sewindu sudah lamanya waktu tinggalkan tanah kelahiranku

Rinduku tebal kasih yang kekal. Detik ke detik bertambah tebal,”

 Iwan Fals – Rindu Tebal

“Kapan kamu pulang? Kenapa jarang ada kabar ke rumah?” Bunda biasanya mengirimkan pesan singkat kala saya sudah tidak pulang dalam tempo waktu lama. Rumah merupakan tempat berlindung, bermimpi, bermanja, marah, sayang, melepas rindu dan bercinta.

Laki-laki kebanyakan memang melakukan perantauan untuk mendapatkan ilmu atau kehidupan yang lebih baik. Sejauh apapun pergi, mereka akan mengetahui jalan mana menuju rumah.

Belum lama ini saya melakukan pendakian ke Gunung Slamet bersama seorang kawan. Karena akan ada banyak waktu luang, saya memutuskan membawa dua buku puisi, Kepulangan Kelima karya Irwan Bajang dan The American Night karya Jim Morrison.

Alasan saya membawa kedua buku puisi ini karena memiliki beberapa bagian yang (menurut saya) sama, cinta. Tapi akhirnya saya hanya bisa menyelesaikan satu buku saja. Beruntungnya itu adalah Kepulangan Kelima.

Suasana yang sepi, tingin dan sejuk menambah hikmatnya membaca. Terkadang saya tertawa kecil. Dan sesekali terdiam dan memutuskan untuk membaca kembali. Hingga akhirnya hanya diam yang dapat mewakili perasaan kala itu.

“Sebenarnya, aku ingin kembali, Ayah. Pulang ke teduh matamu.

Berenang di kolam yang kau beri nama rindu”

Tak Ada Jalan Menuju Rumah – Irwan Bajang

Beruntungnya saya tidak menangis. Kalau sampai itu terjadi bisa jadi kawan perjalananku menertawai hingga sampai Jogja. Mas Bajang (panggilan akrabnya) sepertinya jarang pulang ya. Karena ada beberapa karyanya yang mewakili, dan itu (mungkin) bisa mewakili orang-orang yang sedang menuntut ilmu jauh dari rumah.

Entah sudah berapa lama Mas Bajang terpisah oleh keluarganya dan tidak pulang. Rindu yang sangat dalam sepertinya ingin disampaikan melalui buku ini. Jujur saja, saya bukan termasuk orang yang sering membaca puisi. Tapi, entah mengapa saya sanggup duduk terdiam lama ketika membaca dan membalik lembar demi lembar puisi rindu dan cinta.

“Kenangan, ia berjalanan pelan, dingin menulang di kepalaku.

Menanam risau-risau, menyemai rindu dendam dan berkisah tentang kepulangan”

Rindu yang Meranggas – Irwan Bajang

Buku ini tidak henti-hentinya memberikan kejutan. Sekali lagi saya harus mengelus dada, dan berbisik pada diri sendiri, “kalau ini terjadi padamu, apa yang akan kau lakukan?” Tiba-tiba saja rasa penyesalan yang coba disampaikan sangat mengena, ataukah mungkin saya punya pengalaman yang sama? Ah cukup saya dan Tuhan yang tau.

Sepertinya Mas Bajang memang orang yang sulit untuk berpaling ke tambatan hati lain. Kenangannya seakan terangkai satu persatu. Dimulai dari awal perkenalannya dengan seorang gadis, kenakalan remaja, perpisahan dan kerelaan. Wah, ternyata sangat romantis, tapi siapa yang tau dalam tindakannya. Pastinya dia romantis donk.

“Entah kenapa aku temukan setelah pertemuan itu

Aku semai jutaan benih di ladang yang kau sebut cinta”

Si Tua dan Cinta –Irwan Bajang

Tidak semua perjumpaan dan cinta itu berakhir dengan bahagia. Terkadang harus terjatuh. Terkadang harus karam dan tak terselamatkan. Manusia memiliki harapan, namun tak semua dapat terwujud. Sekali lagi Mas Bajang mewakili rasa yang sebenarnya sudah lama saya pendam dalam hati kecil. Memang dia salah satu sastrawan muda berbakat. Hancur sudah hatiku saat membaca karyanya.

“Kau menggandeng suamimu, lalu aku pulang menggandeng tangan bayangmu”

Pada Resepsi Pernikahan Itu – Irwan Bajang

Hai kawan tapi jangan samakan buku ini dengan buku puisi lainnya. Di dalam buku kita akan mendapatkan CD yang berisikan puisi yang telah diaransemen oleh Mas Bajang dan Ari KPIN. Bagaimana ide tersebut bisa tercetus saya kurang tau, tapi ini sangat langka dan cerdas.

Terdiri atas 10 susunan lagu, CD ini benar-benar bisa membuat kalian terkagum. Ini bukan berisikan puisi yang diringi oleh instrumen, melainkan puisi menjadi susunan lirik dan menyatu menjadi satu. Saya jadi teringat Tiga Titik Hitam milik Burgerkill. Menurut saya lirik yang dibawakan seperti puisi. Indah dan nyaman.

Perasaan paling berkesan buat pribadi saya adalah ketika mencapai track ke 7, Rinjani. Posisi saya saat itu sedang bersiap untuk bersilaturahmi ke Gunung Slamet. Suara gitar dan Ari KPIN mendadak membuat saya terduduk sejenak dan mendengarkan dengan hikmat.

Kepulangan Kelima

Buku ini sangat baik untuk para perantau dan pecinta sejati. Sebaiknya buku ini ada dalam di rak buku koleksimu. Jangan sampai menyesal loh. Pesan di sini aja.

Advertisements

Tagged: , , , , , , , ,

§ 2 Responses to Pulang dan Rindu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Pulang dan Rindu at Another Heaven.

meta

%d bloggers like this: