Bertualang, ini tempat wisata di Bandung

October 9, 2015 § 1 Comment

Bandung, kota yang terkenal dengan Gedung Sate nya. Pasalnya hampir setiap stasiun televisi di Indonesia pernah menunjukkan bangunan yang menjadi icon Jawa Barat tersebut. Tapi sebenarnya masih banyak kawasan lain yang indah dan harus Anda kunjungi jika sedang melancong ke Bandung. Kebetulan saya senang melakukan petualangan alam, dan ini sedikit tempat wisata di Bandung yang mungkin membisa jadi referensi.

Kondisi alam yang hijau, serta danau yang jernih bisa membuat mata kembali segar. Tempat itu adalah Ranca Upas, tetapi masyarakat lebih mengenalnya dengan kampong Cai Ranca Upas. Di kawasan ini Anda bisa kaming ceria bersama kawan ataupun keluarga.

Kawasan yang berada di Jalan Raya Ciwidey Bandung ini tidak hanya untuk itu saja. Sebab beberapa fasilitas wisata lainnya juga sudah disediakan. Seperti kolam renang air hangat, waterboom hingga ATV. Jadi jika main ke Ranca Upas bisa kamping terus lanjut main yang lainnya.

Nah kawasan kedua yang akan saya tunjukan adalah Situ Patenggang. Danau yang masih berada di kawasan Ciwidey ini menawarkan nuansa romatis, sangat cocok untuk membawa tambatan hati sekadar singgah. Suasana hijau nan asri sudah menunggu untuk dijelajahi.

Di tengah danau ada pulau kecil yang bernama Pulau Cinta. Anda bisa mengunjungi pulau tersebut bersama pasangan dengan menggunakan perahu. Tapi gak usah bawa dari rumah, karena warga telah menyediakan penyewaan perahu. Kurang romantic apa tempat wisata di Bandung yang satu ini.

Lokasi ketiga yang akan saya bagi ini sering dijadikan display picture BBM atau media sosial lainnya, yaitu Kawah Putih. Lokasi yang masih asri ini semuanya berselimutkan warna putih, bahkan mungkin Anda menduga jika di sini terjadi hujan salju padahal tidak.

Lokasi yang masih berada di kawasan Ciwidey ini sengaja dibiarkan tetap asri oleh masyarakat sekitar. Sehingga kondisinya masih tetap terjaga. Jika Anda beruntung, saat mendatang ke sini kabut akan turun tetapi tidak sampai menutupi semua kawasan. Sehingga air yang berwana biru kehijauan akan semakin cantik dan cocok untuk didatangi bersama kekasih ataupun teman dekat.

Tempat wisata di Bandung selanjutnya mungkin Anda bisa berkunjung ke Tangkuban Perahu. Kawasan ini sudah banyak dikenal oleh turis dalam negeri hingga mancanegara. Bagaimana tidak terkenal, kawasan ini bisa menghapus kepenatan dari padatnya kota besar.

Suasana yang damai ini akan lebih nikmat jika didatangi tidak pada akhir pecan. Karena terkenal maka pada liburan sekolah akan banyak kunjungan yang membuat suasana padat. Selain indah, tempat wisata di Bandung ini tiketnya sangat ekonomis, sehingga enteng di kantong.

Sekarang saya akan sedikit bergeser ya. Tempat wisata di Bandung selanjutnya adalah Kampung Gajah. Wow jangan-jangan ada gajah berusia ratusan tahun di kampong ini? Tentu tidak, Anda akan mendapati lokasi pantai buatan yang didesain benar-benar menyerupai aslinya. Lokasi ini bisa menjadi salah satu tujuan Anda jika ingin bemain air bersama keluarga.

Lokasi wisata yang berada di Lembang ini memang sangat ramai dikunjungi wisatawan local pada akhir pekan. Bukan karena kawasan ini aman untuk melakukan permainan air, tetapi juga kocek yang perlu Anda rogoh tidak perlu terlalu dalam.

Sudah capek jalan-jalan ke tempat wisata di Bandung di atas? Berarti saatnya kita makan. Salah satu tempat makan yang terkenal adalah Floating Market Lembang. Pasar terapung ini akan menawarkan makanan khas Bandung. Betapa nikmatnya makan sembari menikmati danau yang asri.

Tempat makan yang berada di Lembang ini sebaiknya jangan pernah Anda lewatkan jika berkunjung ke Bandung. Karena ini merupakan salah satu tempat makan yang masuk dalam daftar tiap wisatawan mancanegara. Jadi masih mau melewatkannya tempat wisata di Bandung ini? Jangan lah.

Setahun lalu tentang kita dan Rinjani

October 2, 2015 § Leave a comment

Tidak terasa setahun berlalu tanpa banyak bersuara. Laju kendaraan tidak lambat, tidak pula kencang. Semua sama seperti tahun sebelumnya. Tapi kini sudah setahun cincin emas melingkar di jari manis Eka Mustika.

Dalam ingatan sempat menduga 2 Oktober adalah tanggal di mana saya dengan malu-malu memberikan kotak merah berisikan perhiasan. Ternyata keliru. Ternyata 2 September 2014 adalah tanggal tepatnya saya melamar dirinya.

Kondisi Pelawangan, Gunung Rinjani sunyi. Hembusan angin menyelinap masuk melalui celah tenda yang terbuka. Semua pendaki memutuskan untuk melakukan perjalanan menuju dataran tertinggi di Pulau Lombok ini.

Aku dan Eka memutuskan untuk tinggal dan beristirahat. Perjalanan yang seharusnya ditempuh bersama ternyata dilalui berdua, tanpa petunjuk. Tersisa semangat untuk segera sampai di tenda.

“Ini ada cincin buat ade,” kataku kepada Eka yang masih sibuk bermimpi di belakang.

Entah apa yang dia rasakan saat itu, tetapi Saya memutuskan untuk memejamkan mata dan berdoa. “Semoga ini menjadi akhir dan mula perjalanan.”

Matahari mulai meninggi. Langit yang sepi kian memerah. Namun hawa dingin tak kunjung beranjak, tetap tenang dan terus dihempas angin.

Kami berdua memutuskan membukan pintu tenda yang sedari tadi tertutup rapat. Mengeluarkan kamera, mengenakan sarung tangan dan bersiap mengenang momen istimewa ini.

Senyum manis merekah di wajahnya. Apa lagi yang kau minta saat alam merona indah dan kesehatan masih dalam dada. Terima kasih Tuhan, Aku masih bisa melamarnya di Pelawangan, walaupun niat awalnya ingin melakukannya di puncak.

Kini sudah berjalan setahun. 12 bulan. 365 Hari. 8760 Jam. 525600 Menit. 31536000 Detik. Terima Kasih Ya Allah, kini kami sudah menjadi keluarga. Berkahilah perjalan yang masih seumur jagung ini.

Bekerja untuk mati

September 27, 2015 § Leave a comment

‘Bekerja karena butuh atau kebutuhan menyebabkan bekerja’

Seseorang melakukan pelbagai cara agar hidupnya dapat terus berlangsung. Mulai dari mencuri, memperkosa hingga bekerja tanpa perduli nyawa sebagai taruhannya. Hidup terlalu singkat untuk rehat.

Tak arang pula perjumpaan karena sebatang rokok membuat pembicaraan semakin panjang dan tak berarah.

Sabtu siang itu bersaksi, dua orang pria membicarakan pekerjaan mereka hingga saling melempar tawa pada akhir perbincangan. Si tua lebih dahulu memulai percakapan dengan meminjam pematik pada si muda.

Si tua mengaku pernah bekerja di salah satu perusahaan alat berat asing yang membuka cabang di Indonesia. 35 tahun mengabdikan diri, dia mengaku ingin menghabiskan waktunya untuk duduk, jalan-jalan dan menikmati kondisi perekonomian Indonesia saat ini.

“Alah mas, ngapain saya bisnis lagi. Saya kerja di perusahaan 35 tahun. Sekarang mau santai-santai dulu. Kita lihat dua, tiga tahun besok,” ujar pria berambut putih dan berkaca mata tersebut.

Saya hanya tersenyum dan memanggut, seolah mengamini keinginannya tersebut. Lucunya, dalam perbincangan sekitar satu jam tersebut, tak sekalipun kami berdua saling bertukar nama. Ya, hanya berbincang untuk memastikan kesadaran.

Sekarang saat duduk sendiri dengan mengenakan celana pendek, tanpa kaos, alias telanjang dada. Sebungkus rokok dan secangkir kopi menemani melahap malam.

Entah mengapa, dari banyaknya percakapan, mulai dari kekeliruan SBY saat menjadi presiden karena tidak membangun jalan hingga Garuda Travel Fair yang tidak memiliki jiwa nasionalisme, sebab lebih banyak promo internasional. Tetapi kata-katanya soal ‘sekarang mau santai-santai dulu’ begitu mengganggu.

Bagaimana nggak ganggu, memang kita pasti bisa menyakini esok lusa, saat tua, bisa merasakan santainya dunia. Menikmati polemik yang terjadi dan tertawa di sofa saat menyaksikannya di televisi apa bisa kita lakukan.

Lihat orang tua yang menarik gerobak saja membuat diri ingin terus bergerak lebih cepat. Tapi apa jaminan itu semua akan bisa membuat perubahan? Tentu tidak. Sebab hanya usaha yang bisa dilakukan, dan doa sebagai pelengkap.

Bekerja memang selalu berarti dengan penghasilan. Logika sederhananya, setiap ada keringat atau kemampuan yang dikeluarkan selalu bisa menghasilkan uang. Uang untuk makan, uang untuk sewa kamar dan uang untuk cari teman melepaskan nafsu.

Di Jakarta, semua berjalan dengan cara masing-masing. Tidak perduli kau orang kaya, miskin atau pas-pasan, semua yang dimiliki harus diberdayakan. Tenaga dan intelektual harus dipacu secepat waktu berputar.

Semua mengejar untuk dapat memiliki rumah, mobil, handphone baru dan fashion bermerk. Tapi apa itu yang diharapkan Sang Pengatur Semesta kepada khalifahnya?

Seorang kawan yang menjujung budaya Jawa, Sukro mengatakan, hidup itu kewajibannya cuman tiga. Pertama bekerja, kedua memiliki keturunan dan terakhir mati. Jika sudah sampai tahap kedua, maka manusia hanya menunggu ajal.

Lalu apa hubungannya?

Tuhan memerintahkan manusia untuk membaca. Tujuannya biar pinter lah. Kalau udah pinter, punya kemampuan dan kapasitas nanti bisa kerja. Njuk kalau udah kerja mau ngapain? Hura-hura? Makan sampe puas atau jalan-jalan? Ya bukan lah.

Setelah bekerja, maka seseorang diharapkan mampu menyempurnakan agamanya dengan pernikahan. Harapannya ada keturunan yang dipasrahkan Penguasa Matahari kepada manusia.

Iya lah, kalau gak kerja terus kamu kasih makan apa pasanganmu dan anakmu? Tentu dengan hasil keringat. Tapi bekerja di sini bukan hanya menggenakan dasi, berkemeja dan memakai sepatu mengkilat. Sebab bekerja dengan celana pendek di sawah juga sudah cukup.

Berarti kalau udah punya anak bisa mati? Yo gak gitu ndes.

Kalau diingat, salah satu amalan atau pahala yang tidak akan pernah putus adalah doa dari keturunannya langsung. Oleh karena itu, sebelum mati, seseorang diharapkan mampu mendidik anaknya untuk berbakti, berguna dan beriman. Dengan begitu, dalam setiap sujudnya, doa untuk orang tua tak pernah putus.

Jadi kalau belum bisa mendidik anak, jangan pernah berpikir untuk mati. Bekerja lebih keras, dengan begitu doa yang lirih dapat terdengar Jibril agar disampaikan Pemegang Kuasa Waktu.

Jadi menurut Anda, Bekerja itu kebutuhan atau Kebutuhan menyebabkan bekerja?

Kurban versi Thomas Lembong lebih perih dari korban perasaan

September 26, 2015 § Leave a comment

Umat muslim baru saja merasakan nikmatnya daging sapi ataupun kambing. Ada yang mendapatkan secara gratis, tapi tidak sedikit juga mereka berbagi kepada sesama umat.

Namanya juga Idul Adha, hampir semua orang, terutama di negara yang mayoritas beragama Islam ini menikmati kenyalnya daging. Tapi tidak sedikit juga yang memutuskan untuk menjualnya ke pedagang sate, bakso atau restoran.

Saya tidak akan bercerita perihal itu. Pengalaman waktu merayakan hari raya kurban di Jayapura memiliki nuansa berbeda. Terutama, saat itu kondisinya sedang berada di lingkarang orang-orang perantau dari Makassar.

Perantau dari Sulawesi Selatan ini menganggap, Idul Adha sebagai waktu untuk berkorban. Jika tidak bisa sapi, maka kambing. Kalau kambing juga tak bisa maka ayam kampung. Bahkan jika ayam kampung tak juga bisa, maka darah dari tubuh harus dikorbankan.

“Pokoknya harus ada darah yang diteteskan ke tanah,” ujar Om Bahar beberapa waktu silam.

Mengerikan? Menurut saya enggak. Pernyataan Menteri Perdagangan Thomas Lembong yang sebenarnya lebih sulit untuk dilakukan di Indonesia.

Thomas Lembong yang menggantikan Rahmat Gobel ini meminta jajaran di bawahnya untuk mengorbankan ego, atau gampangnya kepentingan pribadi. Kalau kata orang korban perasaan udah biasa, coba kali ini korban penghasilan.

Bukan perkara mudah untuk menakar ulang penghasilan sehari-hari pejabat eselon I di kementerian. Biasanya bisa main golf seminggu dua kali, kini harus terpangkas sekali dalam dua minggu.

Gubernur Basuki Tjahaja Purnama pernah mengungkapkan, salah satu cara untuk melawan korupsi adalah dengan memberikan penghasilan yang cukup, alias gedhe. Jaminan? Enggak bos. Wong mereka lebih milih gaji standar pegawai kontrak tapi dapat proyek miliaran.

Lalu bagaimana mengatasinya? Indonesia sudah punya jawabannya. Permasalahannya berani gak nerapinnya.

“Hidup sederhana. Gak punya apa-apa tapi banyak cinta,” setidaknya itu kata Band Slank dalam salah satu lagunya.

Susah bos hidup dengan kata cukup. Semakin tinggi penghasilan seseorang maka standar hidup akan ikut naik. Jadi mundahnya, sederhananya pegawai bergaji Rp 3 juta sama Rp 10 juta udah beda.

Pandangan soal sederhana itu gimana sih? Berpakaian seperti apa? Makan apa? Naik kendaraan apa? Handphonenya apa? Atau belanjanya apa?

Punya jawabannya? Monggo silahkan berkomentar pada ruang yang disediakan. Indonesia ini demokrasi semenjak Presiden Indonesia kedua Soeharto dilengserkan oleh Amien Rais. Apa iya? Tanya ulang lagi pada diri sampean komandan.

Hemat saya, Thomas Lembong yang notabenenya non-Islam saja bisa memaknai Hari Raya Idul Adha lebih jauh dibandingkan sebagian kecil pembaca Al-Quran. Loh, emang kitab suci dibaca? Paling juga berbedu dan tersusun rapi bersama beberapa karya Pramoedya Ananta Toer atau mungkin Emha Ainun Nadjib.

“‎Pada musim kurban ini kita melakukan kurban yang nyata. Dan kalau saya renungkan kondisi saat ini yang harus kita kurbankan adalah ego. Bila masih ada kecenderungan untuk ego, itu yang saya minta dipotong, dikurbankan demi Allah,” kata Thomas Lembong di kantornya, Jakarta, Jumat (25/9).

Temen-temen jomblo dan sakit hati masih merasa bangga dengan sering berkorban perasaan? Ini urusan perut, bensin dan pulsa bos. Gak dibelikan handphone saja seorang anak bisa memilih mengakhiri hidupnya.

Ini pegawai negeri sipil diminta untuk mengorbankan kepentingannya demi orang lain yang tidak mereka kenal, masyarakat Indonesia, apa bisa? Silahkan jawab sendiri.

Penyesalan karena belum mengabdi

September 20, 2015 § Leave a comment

Matahari tenggelam mempersilahkan bulan untuk bertengger di semesta. Manusia dari bayi menjadi muda, dewasa dan berakhir dengan tua kemudian tiada. Tak ada yang dapat bertahan hingga penghujung masa bahkan Isa sekalipun.

Telinga ini tidak sengaja mendengar gerutu beberapa wanita yang mengeluh saat mengurusi seorang kakek. Mereka merasa mual saat akan membersihkan kamar berukuran 3×4 meter berbau pesing.

“Rasanya kaya hamil lagi. Bawaannya pengen muntah. Males banget gue ngurusinnya,” keluh perempuan berusia 30-an tahun tersebut.

“Emang siapa mbak?” tanyaku bingung.

“Tuh orang tua,” jawabnya singkat.

Bingung? Jelasnya. Saya teringat saat mama dan papa melakukan pembicaraan serius. Mereka berdua membicarakan rencana pindah rumah karena nenek dari mama tengah sakit, dan tidak ada yang mengurus. Kakak mama masih sibuk berpolitik bersama partai berwarna dasar hijau itu.

“Pulang aja (ke rumah nenek). Selagi masih ada jangan disia-siakan. Jangan terlambat,” kata papa kala itu.

Saya mengetahui alasan papa memutuskan yang berat ini. Nenek dari papa sempat mengalami sakit berat dan dirawat di rumah sakit. Selama diinapkan di sana, papa tidak sempat untuk sekadar menengoknya. Alhasil, saat kabar buruk datang melalui seluler canggihnya, dia langsung terbang menuju Klaten untuk menghadiri pemakaman ibundanya. Ini alasan papa memutuskan hal tersebut.

Karena kami pindah, otomatis sekolah saya dan adik-adik pindah. Dua truk disewa untuk membawa beberapa barang. Sedangkan papa hanya mengantar ke kampung halaman. Sebab dia harus kembali ke Jakarta untuk mencari nafkah.

Lekat betul perjuangan dari keputusan ini. Papa terpaksa harus pulang kampung setiap seminggu sekali menggunakan kereta. Dan ini dilakoninya dalam tempo waktu cukup lama. Dia lelaki hebat yang memberiku banyak pelajaran menjadi seorang suami.

Kondisi nenek berangsur membaik. Rapat kecil kembali digelar. Keluarga bahagia kami akhirnya memutuskan kembali ke Jakarta.

Lalu mengapa perempuan berambut panjang itu mengeluh mengurusi kakeknya? Dia tidak perlu mengeluarkan biaya dan mengorbankan apapun. Kalau cuman pesing dan bau obat serta kotoran yang menjadi kendala, jujur saya sudah pernah menanganinya. Tidak terlalu buruk kok.

Ini menjadi nasehat untuk diri saya sendiri. Masa tua adalah bagaimana memupuk sang anak. Pendidikan semacam ini memang diajarkan dalam pelajaran Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKN). Tapi siapa menyangka penerapannya lebih rumit.

Lekas bangun teman-teman. Saya memang bukan sosok yang berbakti kepada orang tua, tapi aku tahu kapan harus pulang. Kini hanya tinggal mama. Papa sudah menyelesaikan perannya di dunia walaupun singkat.

Terima kasih papa.

Motivasi dalam jalinan silaturahmi

September 20, 2015 § Leave a comment

Silaturahmi, cara yang paling mudah untuk mengingatkan seseorang dari mana dirinya berasal. Membuatnya lupa akan keberadaannya sekarang. Semua terhempas begitu saja, seakan tidak pernah ada ruang untuk meju ke depan.

Beberapa waktu lalu seorang kawan, Yogi mengajak untuk bertemu. Alasannya mau mengantarkan undangan hari bahagianya, pernikahan.

Kami berdua memutuskan, lebih tepatnya saya memaksa, untuk bertemu di salah satu tempat makan modern di kawasan Salemba, Jakarta Pusat.

Yogi, atau akrab disapa Bajuri lebih dulu sampai. Kemudian dia menghubungi secara berulang kali agar segera datang. Karena istri turut serta, alhasil agak sedikit lama untuk berdandan. Setelah selesai kami langsung membawa motor keluaran 1990 menuju lokasi pertemuan.

Cerita punya cerita, saya mencoba mengumpulkan beberapa kawan setelah berjumpa. Lumayan tiga orang kawan menyusul secara bergantian. Pertama Arif, kemudian Ardyan dan terakhir Ikhwan.

Kami berlima akhirnya bercerita tentang ekonomi, politik, budaya, pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) hingga berujung pada keberanian untuk mengakhiri masa lajang.

Terlalu rumit untuk menceritakan semua rangkaian pembicaraan dalam pesan pengingat ini. Saya hanya ingin mengingatkan diri sendiri, bahwa kehadiran seorang teman bukan untuk menemani melainkan memacu motivasi hidup.

Kenapa saya beranggapan demikian?

Sangat sulit memang memahami yang namanya hidup. Kita hanya tahu, hidup itu bekerja, bekerluarga, berketurunan lalu berakhir. Sisanya hanya sempalan kisah yang tidak terlalu penting dalam bingkaian kehidupan.

Seseorang saat berjumpa, sadar ataupun tidak sedikt banyak akan bercerita tentang kehidupannya, kehidupan rekan-rekannya. Atau mungkin pencapaian pendidikan dan finansialnya. Lalu apa yang bisa dilakukan dengan itu semua? Dengarkan dan perhatikan.

Saya selalu menjadikan sebuah pertemuan sebagai campuk pedih kehidupan. Tidak semua percakapan itu indah, sebab luka selalu datang lebih cepat dari kebahagiaan, jika kita tidak tahu artinya bersyukur.

Dari percakapan sekitar lima jam itu, saya mendapatkan tamparan bahwa pengetahuan ku masih dangkal. Risetku masih sangat lemah. Hanya ada asumsi-asumsi dengan referensi yang lemah.

Sepulang dari pertemuan tersebut ada dua yang saya bawa pulang, pertama undangan pernikahan dan kedua motivasi untuk terus bekerja. Bekerja di sini jangan hanya diartikan mencari nafkah, sebab belajar juga termasuk dalam kata kerja.

Sebenarnya sangat senang bersilaturahmi dengan kawan-kawan sejawat. Selain mendapatkan wawasan, jalinan kekeluargaan kembali dikencangkan. Tak ada kata yang lebih indah selain doa, silaturahmi adalah bagian dalam doa. Doa untuk mereka yang selalu maju ke depan, serta doa untuk kalian yang terus memegang zaman.

Terima kasih kawan. Semua bagian tidak akan lengkap tanpa ada kalian.

Harga Smart Detox untuk langsing

September 15, 2015 § Leave a comment

Menginginkan tubuh ideal tanpa harus bersusah payah melakukan diet ataupun olah raga berlebihan? Jawabannya adalah dengan menggunakan dan mengikuti program dari Smart Detox. Karena ini merupakan salah satu program canggih yang mampu menurunkan berat badan Anda dengan modern dan tidak menyiksa. Bahkan, dengan mengikuti program secara teratur, maka akan memiliki manfaat yang luar biasa. Tapi bagi Anda yang belum pernah mencobanya pasti menanyakan berapa harga Smart Detox ini? Ya saya tidak akan menjawabnya secara spesifik, tapi cukup memberikan gambaran.

Smart Detox menarwakan berbagai macam paket yang beragam. Semua akan disesuaikan dengan kebutuhan dan program yang akan Anda jalani. Tapi saya sarankan Anda untuk tetap melakukan konsultasi dengan konsultan resmi dari pihak Smart Detox. Jadi, Smart Detox memiliki empat paket program yang dapat Anda jalani. Salah satu yang membedakan antar masing-masing paket adalah rentan waktu yang berbeda dalam menjalani program pembuangan racun dan penurunan berat badan ini. Program Smart Detox terbagi atas tiga rentan waktu 20 hari, 10 hari dan 7 hari.
« Read the rest of this entry »